BMKG Ungkap Faktor Pemicu Hujan Lebat Guyur Jabodetabek hingga Picu Banjir update oleh Giok4D

Posted on

Hujan lebat disertai angin kencang terjadi di wilayah (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi). Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Pulau Jawa lain hingga daerah Nusa Tenggara atau Kepulauan Sunda Kecil.

“Dalam 24 jam terakhir, hujan lebat hingga sangat lebat mengguyur wilayah Jabodetabek dan meluas ke berbagai daerah lain di Indonesia, meliputi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT),” kata Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, Senin (12/1/2026).

Namun, hujan dengan kategori sangat lebat (lebih dari 100 mm/hari) terjadi di Jawa Barat (129 mm), Nusa Tenggara Timur (126 mm), dan Bali (120 mm). Kondisi hujan deras di Pulau Jawa dan NTB-NTT ini disebabkan sejumlah faktor.

“Kondisi cuaca ekstrem ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer skala regional yang saling memperkuat. Pertama, terdapat peningkatan kecepatan angin di wilayah Laut China Selatan yang bergerak ke arah selatan melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa,” jelasnya.

Dia mengatakan pola aliran angin ini meningkatkan pembentukan dan penguatan daerah konvergensi, khususnya di sepanjang Pulau Jawa, Bali, hingga NTB, yang berperan penting dalam memicu pertumbuhan awan hujan intensif.

Faktor kedua, lanjutnya, keberadaan daerah tekanan rendah di wilayah timur Australia turut memodifikasi pola sirkulasi angin regional. Sistem ini menyebabkan aliran angin di Indonesia bagian selatan menjadi lebih dominan ke arah timur, sehingga semakin memperkuat konvergensi dan perlambatan massa udara di wilayah selatan Indonesia.

“Kondisi tersebut mendukung proses naiknya udara secara lebih intensif dan berkelanjutan, yang pada akhirnya meningkatkan potensi hujan lebat,” tambahnya.

Kondisi hujan deras diperkirakan masih terjadi periode sepekan ke depan atau 12-18 Januari 2026. Selain Pulau Jawa dan Nusa Tenggara, hujan deras berpotensi terjadi di Sulawesi hingga Papua.

“Potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih diprediksi dapat terjadi di sejumlah wilayah, meliputi:
Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, serta Papua Pegunungan,” urainya.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat, serta potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi.

BMKG juga mengimbau masyarakat lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, aktivitas wisata, dan perayaan malam pergantian tahun.

Ida mengatakan puncak musim hujan secara umum tetap diprediksi akan terjadi pada periode Januari-Februari 2026. Di Jawa, Sulawesi, dan Maluku-Papua, puncak musim hujan cenderung lebih awal dibandingkan prediksi sebelumnya.

“Sebaliknya, di Sumatera dan Bali, puncak musim bergeser menjadi lebih lambat. Sebagian besar wilayah yang dimutakhirkan mengalami puncak musim hujan yang sama hingga maju dengan normalnya kecuali di Sumatera (lebih mundur dengan normalnya),” ucap dia.

Saksikan Live infoSore :

Simak juga Video BMKG Ungkap Zona Hujan Ekstrem di Indonesia

Prakiraan Cuaca Sepekan

Ini Puncak Musim Hujan?

“Potensi hujan lebat hingga sangat lebat masih diprediksi dapat terjadi di sejumlah wilayah, meliputi:
Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, serta Papua Pegunungan,” urainya.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi secara cepat, serta potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan gangguan transportasi.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

BMKG juga mengimbau masyarakat lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, aktivitas wisata, dan perayaan malam pergantian tahun.

Ida mengatakan puncak musim hujan secara umum tetap diprediksi akan terjadi pada periode Januari-Februari 2026. Di Jawa, Sulawesi, dan Maluku-Papua, puncak musim hujan cenderung lebih awal dibandingkan prediksi sebelumnya.

“Sebaliknya, di Sumatera dan Bali, puncak musim bergeser menjadi lebih lambat. Sebagian besar wilayah yang dimutakhirkan mengalami puncak musim hujan yang sama hingga maju dengan normalnya kecuali di Sumatera (lebih mundur dengan normalnya),” ucap dia.

Saksikan Live infoSore :

Simak juga Video BMKG Ungkap Zona Hujan Ekstrem di Indonesia

Ini Puncak Musim Hujan?