Badai Tropis untuk Ilmu Kehutanan

Posted on

Badai tropis menjadi titik balik kesadaran untuk menjawab badai dengan badai epistemik yang tidak merusak namun membongkar paradigma ilmu kehutanan. Menyongsong kohesi manusia dan alam yang semakin memberikan harmoni tinggi untuk kehidupan.

Siklon Senyar yang mengguncang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah cermin retak yang memaksa bangsa ini menatap luka terdalam dalam ruang hidup dan peradaban ekologis yang lama dipinggirkan. Banjir dan longsor bukan sekadar bencana, melainkan pesan keras tentang kegagalan menjaga kohesi antara manusia, hutan, dan kehidupan.

Hutan kembali dijadikan alibi atas kegagalan tata kelola, padahal akar persoalannya jauh lebih dalam. Krisis ini berakar pada pijakan ilmu yang selama ini mendikte kebijakan tata kelola hutan dan kehutanan. Di titik inilah ilmu kehutanan harus diaudit secara epistemik secara jujur dan radikal.

Badai tropis yang menyelimuti Nusantara menuntut perluasan cara pandang. Dalam perspektif revolusi ilmu, badai bukan sekadar ancaman, melainkan arus pembaruan yang justru diperlukan untuk menyapu formasi keilmuan yang rapuh. Ilmu kehutanan tidak boleh diam menghadapi situasi kebencanaan ini.

Disiplin kehutanan justru harus bersedia dihantam badai, bukan untuk dihancurkan, melainkan untuk dibongkar. Yang harus runtuh bukan hutan, melainkan cara pandang keilmuan yang selama ini menjadi haluan utama kehutanan Indonesia.

Badai tropis ilmu kehutanan adalah badai simbolik yang mengguncang fondasi pengetahuan yang keliru. Metafora badai berpindah dari ranah meteorologi ke ranah epistemologi. Sumber dari segala sumber pengelolaan hutan Indonesia terletak pada ilmu kehutanan yang lama berkiblat pada paradigma scientific forestry warisan kolonial.

Paradigma ini telah merekonfigurasi ekosistem hutan secara radikal dan menjelma sebagai tirani pengetahuan. Hampir seluruh tata kelola kehutanan Nusantara tidak pernah benar-benar lepas dari bayangannya (Suryanto, 2025).

Pertanyaannya jelas. Apakah bencana ini akan dijawab dengan teknologi yang semakin agresif untuk kembali menaklukkan alam? Jawabannya tidak. Badai tropis justru menuntun refleksi kebangsaan untuk membangun harmoni yang lebih tinggi dengan alam.

Badai ini menjadi titik balik kesadaran untuk menjawab bencana dengan badai yang tidak merusak, tetapi membongkar paradigma ilmu kehutanan. Scientific forestry yang menjadi kitab rujukan di berbagai program studi kehutanan sudah waktunya ditutup. Fakultas Kehutanan dari Aceh sampai Papua, termasuk yang direstui secara akademik di UGM dan IPB, perlu dengan sadar menerima hantaman badai epistemik ini.

Menata ulang tata keilmuan kehutanan dengan menghancurkan cara pandang kolonial (scientific forestry) menuju kehutanan yang bersumber pada spirit kenusantaraan agung. Badai tropis ilmu kehutanan dimulai dengan dekolonisasi scientific forestry.

Atas dasar tinjauan di atas, terdapat arus perasaan mendesak (sense of urgency) dalam kehutanan dengan nafas nusantara tinggi untuk segera melakukan dekolonisasi scientific forestry.

Dekolonisasi scientific forestry merupakan semangat pembebasan tata kelola kehutanan Indonesia dari warisan kolonial yang telah merusak tatanan ekosistem hutan secara menyeluruh. Paradigma scientific forestry telah menggusur nilai-nilai kearifan agung kehutanan Nusantara yang diletakkan oleh nenek moyang.

Kepustakaan agung tata kelola hutan Nusantara dapat merujuk pada spirit besar Agroforestri Autentik Nusantara (AAN) yang dirumuskan dari kehutanan leluhur Nusantara melalui sistem perladangan berputar (Suryanto, 2025). AAN berhasil mereproduksi ekosistem hutan yang formasinya mirip seperti hutan alam.

Buah pikiran AAN menunjukkan bahwa agroforestri khas Indonesia memiliki struktur tegakan yang kompleks dan menyerupai hutan alam. Informasi ini selaras dengan yang sampaikan oleh de Foresta dkk (2000). Agroforestri Repong damar di Krui, Lampung memiliki 39 jenis pohon dengan kerapatan 245 pohon per hektar, tutupan kanopi utama 88-130% (lebih tinggi dari hutan primer 60%), subkanopi 5-34%, lapisan bawah 12%, serta mengandung 15-50% pohon hutan alam.

Agroforestri tembawang di Kalimantan Barat memiliki struktur vertikal hingga 70 m, dominasi pohon pada ketinggian 35-45 m, dan keanekaragaman lebih dari 250 spesies. Sistem parak di Maninjau, Sumatera Barat membentuk untaian produksi berlapis dengan kanopi hingga 40 m dan tutupan 90%, subkanopi 5-15 m dengan tutupan 70%, serta dinamika suksesi pada umur 20-30 tahun.

AAN terbukti berhasil mereproduksi ekosistem hutan. Sebagai corak khas kehutanan autentik Nusantara, watak dasar AAN terwujud dalam delapan karakter pokok yang saling terkait dan membentuk satu kesatuan epistemik, yaitu yang pertema Kemampuan mereproduksi ekosistem hutan, bukan sekadar menebang atau mengeksploitasinya. Kedua, struktur tegakan kompleks dan berlapis, menyerupai hutan alam dengan keanekaragaman tinggi.

Ketiga, integrasi produktivitas dan keberlanjutan, di mana produksi berjalan seiring dengan keutuhan ekosistem. Kemudian yang keempat berbasis pengetahuan leluhur Nusantara, yang tumbuh dari praktik panjang perladangan berputar;

Kemudian nomor daya pulih ekosistem yang tinggi, memungkinkan hutan bangkit kembali melalui manajemen suksesi yang dipercepat. Lalu ketahanan ekologis jangka panjang, yang menjaga stabilitas lanskap, air, dan tanah.

Ketujuh, keadilan sosial dan ekonomi lokal, melalui distribusi manfaat yang adil dan penguatan penghidupan masyarakat. Terakhir, daya saing ekonomi hingga menembus pasar ekspor, tanpa kehilangan integritas ekologis dan kulturalnya.

Dekolonisasi scientific forestry dalam kerangka membebaskan diri dari sandera kategori-kategori ilmiah versi kolonial. Dekolonisasi scientific forestry kerap dianggap utopis, terlalu ideal bagi dunia kehutanan yang masih dikungkung oleh warisan sistem kolonial dan bentuk-bentuk barunya. Namun, banyak ide revolusioner justru lahir dari impian-impian utopis, sebagai perlawanan terhadap distopia yang merupakan kelanjutan warisan kolonial.

Spirit dekolonisasi scientific forestry membangkitkan kembali ingatan Nusantara akan jati dirinya. Maka, rintangan terberatnya bukan pada perangkat teknokratis, melainkan pada keberanian bangsa ini untuk berhenti merasa inferior terhadap pengetahuannya sendiri. Mental keilmuan (scientific mentality) dari paradigma scientific forestry berdasarkan telaah AAN menunjukkan adanya ketidakmampuan sistem kehutanan untuk mempertahankan keberadaan ekosistem hutan (Suryanto, 2025).

Badai tropis ilmu kehutanan sebuah panggilan bagi kampus, pembuat kebijakan, dan seluruh anak bangsa untuk tidak lagi menjadi pewaris pasif warisan kolonial, melainkan pencipta arah baru peradaban ekologis. Kementerian Kehutanan pun juga dengan kesadaran tinggi untuk menerima badai ilmu kehutananan ini.

Kebijakan-kebijakan lintas era pembangunan perlu ditinjau secara komprehensif, jernih dan mendalam. Hutan untuk pangan, energi dan air tidak cukup dengan basis agroforestri. Konsep, ilmu dan mandat yang dirujuk dalam berbagai kebijakan masih berlandaskan pada agroforestri rumusan era 1970-an. Dimana agroforestri ini DNA-nya menginduk kuat hutan ilmiah warisan kolonial.

Kebangkitan kehutanan Indonesia hanya mungkin terjadi jika bangsa ini berani berdamai dengan pengetahuan leluhurnya. Agroforestri Autentik Nusantara bukan sisa masa lalu, melainkan horizon masa depan. Manuskrip akbar AAN membuktikan bahwa ekosistem hutan dapat direproduksi, bukan dieksploitasi.

Produktivitas dapat berjalan seiring dengan keutuhan ekosistem. Ilmu yang berakar pada Nusantara justru lebih mampu menjawab krisis ekologis global. Dengan demikian hutan kembali menjadi sumber kehidupan, dan bangsa ini kembali menemukan martabatnya, semoga.

Priyono Suryanto. Guru Besar Fakultas Kehutanan UGM, Ketua Umum Masyarakat Agroforestri Indonesia.

Simak juga Video: Badai Podul Terjang Hong Kong, Hujan Lebat Seharian

Dekolonisasi Menyongsong Ilmu Kehutanan Autentik Nusantara

Penutup