Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali merilis prediksi cuaca mingguan untuk periode 9-15 Januari 2026. Dalam minggu ke depan, BMKG masih mengeluarkan peringatan dini hujan sedang-lebat di sebagian wilayah RI.
Sebelumnya, BMKG menyatakan Januari-Februari 2026 masih menjadi masa puncak musim hujan bagi Indonesia bagian selatan dan timur. Hal ini dikarenakan puncak musim hujan terjadi lebih awal dibandingkan dengan kondisi biasanya.
Untuk itu, pada beberapa hari terakhir wilayah RI bagian timur seperti Maluku Utara, Papua Barat, dan selatan seperti Jawa Barat mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Ada lima faktor fenomena atmosfer yang menyebabkan hal ini.
Kelimanya adalah kondisi La Nina yang lemah, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif secara spasial di sebagian besar wilayah RI, terjadi anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) negatif, perambatan gelombang ekuator, dan kondisi atmosfer yang labil.
Lalu, bagaimana kondisi atmosfer satu minggu ke depan dan prospek cuacanya? Dikutip dari unggahan Instagram BMKG, Jumat (9/1/2026) berikut penjelasannya.
Setidaknya ada lima kondisi atmosfer yang menyumbang turunnya hujan di sebagian besar wilayah RI untuk 9-15 Januari 2026. Kelima yaitu:
BMKG terus memantau keadaan El Nino-Southern Oscillation (ENSO). ENSO adalah fenomena iklim global yang melibatkan fluktuasi suhu permukaan laut di Samudra Pasifik.
Dalam pemantau terbaru, ENSO terus menguat pada fase negatif. Keadaan ini mengartikan kondisi La Nina yang lemah dan suhu muka laut menjadi relatif hangat di sebagian perairan RI.
Suhu muka laut yang hangat berpotensi meningkatkan pasokan uap air dan membentuk awan hujan. Oleh karena itu, kemungkinan hujan masih menyelimuti berbagai wilayah RI pada pertengahan Januari ini.
MJO aktif secara spasial melintasi di sebagian besar wilayah Indonesia. Sebagai informasi, MJO adalah fenomena atmosfer yang berosilasi (gerak bolak-balik) di wilayah tropis.
Ketika aktif MJO adalah sistem konvektif (yang kemudian menghasilkan awan tebal dan hujan lebat) dengan skala besar yang bergerak dari barat ke timur di wilayah Benua Maritim. Fenomena ini aktif dalam periode 30-60 hari.
Berbagai gelombang ekuator seperti gelombang Kelvin dan gelombang Rossby terpantau juga aktif. Hal ini dapat memperkuat proses konvektif di sebagian besar wilayah Indonesia.
Kombinasi antara MJO, gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby terpantau aktif di Papua Selatan dan perairan selatan Papua Selatan.
Sirkulasi siklonik terpantau di Perairan barat Australia. Sirkulasi siklonik adalah pusaran angin yang menarik massa udara dan uap air.
Akibatnya awan terbentuk dan bergerak menuju pusaran angin tersebut.
Terdapat daerah konvergensi dan konfluensi yang memanjang di sebagian wilayah RI. Konvergensi adalah tempat pertemuan dua aliran angin yang dominan dari arah berbeda dan disertai dengan perlambatan kecepatan angin. Dampaknya terjadi akumulasi massa udara.
Sedangkan konfluensi adalah daerah pertemuan angin dari arah berbeda yang mengakibatkan udara naik.
“Kondisi atmosfer yang masih aktif dan kompleks ini berpotensi menyebabkan peningkatan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan sehingga memicu cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir, angin kencang, serta gelombang laut tinggi,” pesan BMKG.
Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya.
Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Maluku Utara, Papua Selatan.
Maluku, Kepulauan Riau, Papua Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan.
Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Banten, Jakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Selatan.
Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Papua, Angin Kencang, Maluku, Balu, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Papua, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya.
Maluku, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Papua, Maluku Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat Daya.
