Di jantung kota ibu kota, berdiri sebuah patung sepasang suami istri petani. Dikenal sebagai Tugu Tani, nama asli patung ini patung Pahlawan.
Patung itu mudah ditemui. Berada tepat di bundaran Jl. Menteng Raya, Kebun Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.
Keberadaannya mencolok dan begitu kontras dengan fasad di sekelilingnya, juga aktivitas warga atau pun pekerja yang melintasinya.
Tugu Tani, atau yang secara resmi dikenal sebagai Patung Pahlawan, sulit diabaikan bagi siapa pun yang melewati bundaran ini, terutama para pengendara. Setiap orang yang rutin melintas pasti merasakan momen “terhenti” di lampu merah yang tersebar di berbagai arah masuk, memaksa mereka sejenak menatap monumen ikonik ini.
Dengan pengaturan lalu lintas seperti itu, tidak ada celah untuk melewatkan Tugu Tani tanpa menyadarinya, menjadikannya sorotan mata bagi setiap pengendara yang melintas.
Patung itu terdiri dari dua sosok, seorang pria mengenakan caping, topi petani, tetapi juga menyandang senapan. Patung pria itu bertelanjang dada dan memakai celana pendek. Di sampingnya, seorang wanita dengan pakaian tradisional, kebaya dan kain, lengkap dengan kain yang menjuntai di leher, juga bersanggul.
Di balik ikonografi yang terkenal, monumen itu tetap mempertahankan nama aslinya sebagai Patung Pahlawan. Lebih dari sekadar landmark kota, Tugu Tani menyimpan narasi sejarah yang kompleks, yakni lahir dari diplomasi internasional, terinspirasi oleh sebuah desa di Jawa Barat, dan sempat terlibat kontroversi politik yang hampir menyebabkan pembongkarannya usai peristiwa 1965.
Melansir Jurnal Kalacakra Ilmu Sosial dan Pendidikan yang ditulis Astuti pada 2023, bertajuk ‘Proyek Mercusuar: Langkah Politik Atau Keegoisan Soekarno Pasca Kemerdekaan’ patung itu menjadi bukti nyata dari visi Presiden Soekarno pada era 1960-an.
Pada masa itu, Bung Karno dengan gigih menggalakkan proyek “Mercusuar” untuk menampilkan keunggulan Indonesia di panggung dunia, bersamaan dengan pembangunan Gelora Bung Karno (GBK), Hotel Indonesia, dan Monumen Nasional (Monas).
Menurut Arfianti, pemandu Wisata Jakarta Good Guide (JGG), ide pembangunan patung itu dimulai saat kunjungan Bung Karno ke Uni Soviet. Terpesona oleh patung-patung revolusioner yang menakjubkan di sana, Sukarno mendesak pejabat Soviet untuk membangun monumen yang mewakili perjuangan Indonesia dalam revolusi.
“Patung itu dibangun pada 1960-an. Sebenarnya ide itu dari Bung Karno. Ide inspirasi awalnya ketika Bung Karno jalan-jalan ke Uni Soviet pada 1922. Ya, di sana waktu itu lagi ada pergerakan besar, ya. Waktu itu dia menjumpai ada patung gede, intinya mengenai revolusi gitu. Nah, pada 1920-an itu di Uni Soviet-nya ada pergolakan politik antara pro dengan kekaisaran sama yang menentang kekaisaran gitu,” kata Arfianti kepada infoTravel dan traveler lain yang mengikuti walking tour, Senin, (5/1/2026).
Permintaan itu memiliki bobot politik yang signifikan, berfungsi sebagai simbol perlawanan terhadap Belanda, yang pada saat itu belum menyerahkan Irian Barat (Papua) ke Tanah Air. Pemerintah Soviet kemudian menunjuk dua pematung terkemuka, saudara Matve Manizer dan Otve Manizer, untuk mewujudkan visi ini.
Para seniman Uni Soviet, dalam upaya untuk mencari gambaran esensi patung yang sedang mereka buat, tidak hanya mengandalkan imajinasi mereka. Mereka melakukan perjalanan ke Indonesia, menjelajahi pedalaman sebuah desa di Jawa Barat.
Di sanalah Matve menemukan inspirasi visual yang kuat. Ia mengamati esensi Indonesia sebagai negara yang berakar pada pertanian, sehingga gambaran petani tak terpisahkan dari topi kerucut atau caping yang biasa digunakan para petani.
Adegan yang mengharukan terungkap saat seniman menyaksikan seorang ibu memberikan berkah kepada anaknya, memberikan beras kepadanya sebelum ia berangkat untuk menghadapi pertempuran di depan.
Momen itu diabadikan pada patung pahlawan yang menyerupai petani. Patung itu menggambarkan tekad untuk mempertahankan tanah airnya dengan tekad yang tak tergoyahkan.
Nasib Patung Pahlawan nyaris berada di ambang kehancuran setelah meletusnya Gerakan 30 September 1965 (G30S). Sosok petani yang digambarkan memegang senjata memicu interpretasi panas di tengah ketegangan politik yang memuncak.
Para penentang komunisme menilai patung itu mencerminkan ideologi Partai Komunis Indonesia (PKI), yang dianggap mewakili petani dan pekerja bersenjata.
Menurut Arfianti, kontroversi ini semakin memanas ketika tokoh militer Sarwo Edhie Wibowo ikut terlibat dalam perdebatan soal penghapusan simbol-simbol yang dianggap pro-kiri.
“Jadi Sarwo Edhie itu dulu sempat dekat dengan Pak Harto. Dia berperan juga dalam pembersihan PKI saat itu. Nah, sempat di apa dinaikkan lagi nih, ini adalah isunya terkait dengan PKI. Soalnya mana ada petani itu kok bawa-bawa senjata, gitu. Karena ini melambangkan PKI banget yang tujuannya adalah apa, mempersenjatai buruh dan tani. Kan kayak gini banget kan?” kata dia.
Patung tersebut mendapat kritik karena diduga memuliakan tentara petani bersenjata, memicu tuntutan untuk pembongkaran atau pemindahan patung dari lokasi tersebut.
Di tengah tuntutan untuk menghancurkan patung, Adam Malik muncul sebagai simbol harapan. Adam Malik, yang memahami konteks sejarah Patung Pahlawan karena perannya membantu Soekarno memilih pematung Matvei Manizer, tidak setuju patung itu dibongkar.
Melansir artikel infoNews berjudul “Tugu Tani Bukan Simbol Komunis tapi Perjuangan Irian Barat”, Adam Malik teguh mendukung keberadaan monumen tersebut.
“Tapi, ada yang belain tentunya, si Adam Malik. Karena Adam Malik tahu persis Bung Karno cerita sama dia mengenai inspirasi patung ini” ujar Arfianti selaras dengan pernyataan tersebut.
Wakil Presiden ketiga itu menekankan bahwa patung tersebut hanya berfungsi sebagai simbol perjuangan rakyat dan cinta mereka terhadap Tanah Air, bukan sebagai alat untuk mempromosikan ideologi tertentu.
Hingga kini, setelah melewati berbagai gejolak sejarah, Patung Pahlawan tetap berdiri tegak. Sering disebut sebagai Tugu Tani karena topi petani yang menghiasi patung tersebut, saksi bisu dari sejarah diplomatik bangsa, ekspresi seni, dan gejolak politik.
Kontroversi Petani Pada 1965
Selamat Berkat Adam Malik



Nasib Patung Pahlawan nyaris berada di ambang kehancuran setelah meletusnya Gerakan 30 September 1965 (G30S). Sosok petani yang digambarkan memegang senjata memicu interpretasi panas di tengah ketegangan politik yang memuncak.
Para penentang komunisme menilai patung itu mencerminkan ideologi Partai Komunis Indonesia (PKI), yang dianggap mewakili petani dan pekerja bersenjata.
Menurut Arfianti, kontroversi ini semakin memanas ketika tokoh militer Sarwo Edhie Wibowo ikut terlibat dalam perdebatan soal penghapusan simbol-simbol yang dianggap pro-kiri.
“Jadi Sarwo Edhie itu dulu sempat dekat dengan Pak Harto. Dia berperan juga dalam pembersihan PKI saat itu. Nah, sempat di apa dinaikkan lagi nih, ini adalah isunya terkait dengan PKI. Soalnya mana ada petani itu kok bawa-bawa senjata, gitu. Karena ini melambangkan PKI banget yang tujuannya adalah apa, mempersenjatai buruh dan tani. Kan kayak gini banget kan?” kata dia.
Patung tersebut mendapat kritik karena diduga memuliakan tentara petani bersenjata, memicu tuntutan untuk pembongkaran atau pemindahan patung dari lokasi tersebut.
Di tengah tuntutan untuk menghancurkan patung, Adam Malik muncul sebagai simbol harapan. Adam Malik, yang memahami konteks sejarah Patung Pahlawan karena perannya membantu Soekarno memilih pematung Matvei Manizer, tidak setuju patung itu dibongkar.
Melansir artikel infoNews berjudul “Tugu Tani Bukan Simbol Komunis tapi Perjuangan Irian Barat”, Adam Malik teguh mendukung keberadaan monumen tersebut.
“Tapi, ada yang belain tentunya, si Adam Malik. Karena Adam Malik tahu persis Bung Karno cerita sama dia mengenai inspirasi patung ini” ujar Arfianti selaras dengan pernyataan tersebut.
Wakil Presiden ketiga itu menekankan bahwa patung tersebut hanya berfungsi sebagai simbol perjuangan rakyat dan cinta mereka terhadap Tanah Air, bukan sebagai alat untuk mempromosikan ideologi tertentu.
Hingga kini, setelah melewati berbagai gejolak sejarah, Patung Pahlawan tetap berdiri tegak. Sering disebut sebagai Tugu Tani karena topi petani yang menghiasi patung tersebut, saksi bisu dari sejarah diplomatik bangsa, ekspresi seni, dan gejolak politik.
Kontroversi Petani Pada 1965
Selamat Berkat Adam Malik








