PT Tata Metal Lestari menggelontorkan investasi Rp 1,5 triliun untuk membangun fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 di Plant Sadang, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Fasilitas ini menggunakan teknologi perushaan asal Italia, Tenova, untuk menghasilkan baja lapis berstandar internasional.
Vice President of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi mengatakan, teknologi pelapisan tersebut mampu meningkatkan usia pakai baja hingga empat kali lipat dibandingkan baja konvensional. Selain itu, sistem burner pada CGL 2 telah dilengkapi teknologi berbasis hidrogen untuk menekan emisi.
“Ini merupakan investasi sebesar Rp 1,5 triliun yaitu CGL 2. Ini merupakan teknologi yang pertama di Southeast Asia yang dibangun, jadi menggunakan teknologi pelapisan menggunakan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium yang kelebihannya adalah meningkatkan penggunaan umur baja itu hingga 4 kalinya,” ujarnya dalam Groundbreaking di Purwakarta, Senin (26/1/2026).
Baja lapis yang dihasilkan ditujukan untuk kebutuhan konstruksi, infrastruktur, dan manufaktur. Menurut Stephanus, fasilitas CGL 2 ditargetkan mulai beroperasi atau commissioning pada Desember 2026.
Pembangunan proyek ini diperkirakan menyerap sekitar 350 tenaga kerja di wilayah Kabupaten Purwakarta. Stephanus menyebut pihaknya berkomitmen menggerakkan ekonomi daerah baik secara langsung maupun tidak langsung.
Saat ini Tata Metal Lestari sudah mengoperasikan CGL di Bekasi dengan kapasitas produksi 250 ribu ton baja lapis per tahun. Melalui investasi ini, kapasitas produksi akan ditingkatkan menjadi 500 ribu ton, dan secara bertahap ditargetkan mencapai 2,5 juta ton dalam 10 tahun.
Sekitar 30-40% dari total produksi perusahaan saat ini diekspor ke 25 negara. Negara tujuan ekspor antara lain Amerika Serikat, Australia, Kanada, sejumlah negara Amerika Latin, serta kawasan Asia Tenggara.
“Saat ini (ekspor) ke Australia, Amerika Serikat, Kanada dan juga di beberapa negara di Latin Amerika dan tentunya di Southeast Asia, di negara-negara tetangga ini sudah menggunakan baja lapis dari Tata Metal Lestari,” ujarnya.
Perusahaan juga menyiapkan ekspansi pasar ekspor ke Eropa seiring peluang kerja sama perdagangan Indonesia-Uni Eropa. Produk baja lapis rendah emisi disebut menjadi keunggulan untuk menembus pasar tersebut.
Dari sisi tingkat komponen dalam negeri (TKDN), produk Tata Metal Lestari berada di kisaran 62-64%. Sekitar 80-85% bahan baku baja yang digunakan berasal dari produsen dalam negeri, termasuk Krakatau Steel.
Sementara itu, Direktur Industri Logam Kementerian Perindustrian, Dodiet Prasetyo menyebut industri baja nasional semakin berperan dalam menopang pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, serta pengembangan sektor permesinan, otomotif, galangan kapal, dan energi.
Berdasarkan data World Steel Association, Indonesia menempati peringkat ke-14 produsen crude steel dunia pada 2024 dengan produksi mencapai 17 juta ton. Jika dihitung dari tahun 2019, ada peningkatan produksi sebesar 98,5% yang saat itu masih di kisaran 8,5 juta ton.
Kemenperin juga menargetkan produk baja dalam negeri mampu bersaing di pasar domestik maupun ekspor. Dari sisi permintaan, konsumsi baja nasional meningkat dari 15,1 juta ton pada 2018 menjadi 17,6 juta ton pada 2023. Angka tersebut diproyeksikan naik menjadi 19,6 juta ton pada 2025.
“Dengan proyeksi (konsumsi) mencapai 19,6 juta ton pada 2025, diperkuat oleh PSN 2025-2029 di mana kebutuhan baja terbesar berasal dari pembangunan kawasan industri & KEK (12,4 juta ton) serta proyek konektivitas jalan, rel, pelabuhan, bandara, dan utilitas kawasan (8,9 juta ton),” sebut Dodiet.
“Kedua kategori ini merupakan fondasi ekspansi sektor manufaktur dan logistik nasional. Oleh karena itu, untuk mendukung implementasi Asta Cita Presiden RI, Prabowo Subianto, peningkatan kapasitas produksi melalui fasilitas CGL 2 ini, menjadi salah satu upaya untuk memenuhi pasokan untuk sektor hilirisasi sekaligus membuka ruang bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian industri,” tutupnya.
Simak juga Video ‘Bahlil Incar Papua untuk Produksi Bahan Baku Etanol’:







