Komunikasi Terakhir Ibu dengan Pratu Farkhan yang Diduga Tewas Dianiaya Senior - Giok4D

Posted on

Masinah Wati Silalahi tak kuasa menahan tangisnya saat mengingat anaknya Pratu Farkhan Syauqi Marpaung (23) tewas karena diduga dianiaya seniornya sesama TNI. Masinah pun mengungkapkan komunikasi terakhirnya bersama dengan putranya.

Pratu Farkhan berdinas di Yonif 113/Jaya Sakti Aceh dan tengah satgas ke Papua. Masinah mengatakan anaknya sudah 5 tahun menjadi prajurit TNI.

Farkhan mengawali kariernya di Aceh. Lalu, pada Mei 2025, Farkhan menjadi satu dari ratusan prajurit yang diberangkatkan untuk satgas ke Papua.

“Dia tugas sudah 5 tahun, cuman dia di satgas ke Papua baru 7 bulan, bulan 5 (Mei) kemarin berangkat,” kata Masinah saat dihubungi infoSumut, Selasa (6/1/2026).

Masinah menyebut anaknya lebih dulu meminta izin kepadanya sebelum memutuskan berangkat satgas. Meski berat, Masinah merelakan anaknya berangkat. Sebab, menjadi anggota TNI merupakan cita-cita anaknya sejak SMP.

Wanita berusia 54 tahun itu mengatakan anaknya rutin berkomunikasinya dengannya. Dia memerkirakan anaknya bisa menghubunginya sampai 3 kali dalam sehari.

Masinah terakhir berkomunikasi dengan anaknya pada 30 Desember 2025. Sementara informasi soal meninggalnya korban diterima pihak keluarga pada 31 Desember 2025.

Pada 30 Desember itu, kata Masinah, anaknya menghubunginya sekira pukul 09.00 WIB. Saat itu, Masinah kebetulan tengah bekerja dan hendak rapat. Alhasil komunikasi antara keduanya tidak lama.

“Dia (Farkhan) menelepon, karena pas itu saya lagi ada rapat. Jadi, sebelum rapat dia telepon, nanya saya di mana, pas itu belum acara. Pada saat acara sudah dimulai, ya sudah mati, nanti ditelepon lagi katanya,” jelasnya.

Setelah itu, Farkhan memang menelepon ibunya lagi, tetapi tak sempat diangkat oleh Masinah. Keesokan harinya, Masinah pun melakukan rutinitasnya seperti biasanya.

Dia sudah sempat heran kenapa anaknya tak menghubunginya, seperti biasanya. Namun, Masinah tetap berpikir positif dan melanjutkan pekerjaannya.

Hingga pulang bekerja sekira pukul 12.00 WIB, anaknya tak juga kunjung menghubunginya. Saat itu, Masinah tetap berpikir positif dan yakin anaknya akan menghubunginya lagi pada 1 Januari 2025.

Sebab, setiap tanggal 1, Farkhan akan menghubungi ibunya dan menyampaikan bahwa dirinya telah mentransfer uang gajinya kepada orang tuanya.

“Mulai dari dulu sampai dia berangkat ke Papua itu. Kalau udah tanggal 1, masuk gaji, dia itu tetap transfer. Gitu lah dia royal dan perhatian sama orang tua,” sebut Masinah.

Setibanya di rumah, Masinah pun melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak. Tak lama, suaminya juga tiba di rumah.

Sekira pukul 14.00 WIB, mereka mendapat kabar dari Babinsa bahwa Farkhan telah meninggal dunia. Masinah dan keluarganya langsung syok.

Masinah menangis histeris. Dia tak menyangka dengan kabar bahwa anak sulungnya telah tiada.

Tak lama, Masinah dikabari oleh keponakannya yang juga seorang TNI bahwa Farkhan memang benar telah meninggal dunia. Kesedihan Masinah bertambah kala mendapat kabar bahwa anaknya tewas karena dianiaya.

“Kemudian dapat telepon dari keponakan tentara juga. Dapat kabar bahwa anak saya itu sudah tiada lagi, sudah meninggal. Cek kronologisnya memang iya, memang sakit ditambah lagi, dianiaya,” jelasnya.

Masinah mengatakan bahwa saat menelepon dengan anaknya terakhir kali, suara Farkah baik-baik saja, tak seperti orang yang tengah sakit. Namun, beberapa hari sebelumnya, Farkhan sempat memberitahu ibunya bahwa dirinya tengah demam tinggi.

Dia menyarankan anaknya untuk meminum obat. Saat itu, Farkhan pun meminta ibunya untuk tidak mengkhawatirkannya.

Dia pun merasa kondisi anaknya sudah membaik. Namun, belakangan setelah kejadian itu, Masinah mendapat informasi dari keponakannya bahwa anaknya masih dalam keadaan sakit saat dianiaya itu.

“Kalau setahu saya, anakku itu lagi sakit, demam. Menurut, ada yang mengasih tahu, ada saksi yang di sana itu, (Farkhan) sakit, demam malaria,” kata Masinah.

Atas kejadian ini, Masinah mengaku keluarganya telah membuat laporan ke Pom.

“Sudah dilaporkan ke Pom Jaya Sakti sana,” ujarnya.

Masinah mengatakan Pratu Farkhan adalah sosok anak yang baik dan penurut kepada orang tua. Selain itu, Farkhan juga dikenal baik di kalangan teman-temannya.

Kini jasad Pratu Farkhan telah dimakamkan di kampung halamannya di Desa Hessa Air Genting, Kecamatan Air Batu, pada Sabtu (3/1).

“Orangnya baik, royal, rajin beribadah, royal sama kawan. Sama orang tua juga nurut, ya. Makanya aku bangga sama anakku, meninggal seorang pejuang, cuman aku tak rela anakku disakiti lagi sakit,” sebutnya.

Dia berharap terduga pelaku yang disebut berpangkat Kopral itu dipecat dan diberi hukuman seberat-beratnya.

“Setidaknya dia (terduga pelaku) dicopot dari jabatannya dan dipecat, hukuman seberat-beratnya,” kata Masinah.

Sosok Pratu Farkhan

Dia sudah sempat heran kenapa anaknya tak menghubunginya, seperti biasanya. Namun, Masinah tetap berpikir positif dan melanjutkan pekerjaannya.

Hingga pulang bekerja sekira pukul 12.00 WIB, anaknya tak juga kunjung menghubunginya. Saat itu, Masinah tetap berpikir positif dan yakin anaknya akan menghubunginya lagi pada 1 Januari 2025.

Sebab, setiap tanggal 1, Farkhan akan menghubungi ibunya dan menyampaikan bahwa dirinya telah mentransfer uang gajinya kepada orang tuanya.

“Mulai dari dulu sampai dia berangkat ke Papua itu. Kalau udah tanggal 1, masuk gaji, dia itu tetap transfer. Gitu lah dia royal dan perhatian sama orang tua,” sebut Masinah.

Setibanya di rumah, Masinah pun melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak. Tak lama, suaminya juga tiba di rumah.

Sekira pukul 14.00 WIB, mereka mendapat kabar dari Babinsa bahwa Farkhan telah meninggal dunia. Masinah dan keluarganya langsung syok.

Masinah menangis histeris. Dia tak menyangka dengan kabar bahwa anak sulungnya telah tiada.

Tak lama, Masinah dikabari oleh keponakannya yang juga seorang TNI bahwa Farkhan memang benar telah meninggal dunia. Kesedihan Masinah bertambah kala mendapat kabar bahwa anaknya tewas karena dianiaya.

“Kemudian dapat telepon dari keponakan tentara juga. Dapat kabar bahwa anak saya itu sudah tiada lagi, sudah meninggal. Cek kronologisnya memang iya, memang sakit ditambah lagi, dianiaya,” jelasnya.

Masinah mengatakan bahwa saat menelepon dengan anaknya terakhir kali, suara Farkah baik-baik saja, tak seperti orang yang tengah sakit. Namun, beberapa hari sebelumnya, Farkhan sempat memberitahu ibunya bahwa dirinya tengah demam tinggi.

Dia menyarankan anaknya untuk meminum obat. Saat itu, Farkhan pun meminta ibunya untuk tidak mengkhawatirkannya.

Dia pun merasa kondisi anaknya sudah membaik. Namun, belakangan setelah kejadian itu, Masinah mendapat informasi dari keponakannya bahwa anaknya masih dalam keadaan sakit saat dianiaya itu.

“Kalau setahu saya, anakku itu lagi sakit, demam. Menurut, ada yang mengasih tahu, ada saksi yang di sana itu, (Farkhan) sakit, demam malaria,” kata Masinah.

Atas kejadian ini, Masinah mengaku keluarganya telah membuat laporan ke Pom.

“Sudah dilaporkan ke Pom Jaya Sakti sana,” ujarnya.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Masinah mengatakan Pratu Farkhan adalah sosok anak yang baik dan penurut kepada orang tua. Selain itu, Farkhan juga dikenal baik di kalangan teman-temannya.

Kini jasad Pratu Farkhan telah dimakamkan di kampung halamannya di Desa Hessa Air Genting, Kecamatan Air Batu, pada Sabtu (3/1).

“Orangnya baik, royal, rajin beribadah, royal sama kawan. Sama orang tua juga nurut, ya. Makanya aku bangga sama anakku, meninggal seorang pejuang, cuman aku tak rela anakku disakiti lagi sakit,” sebutnya.

Dia berharap terduga pelaku yang disebut berpangkat Kopral itu dipecat dan diberi hukuman seberat-beratnya.

“Setidaknya dia (terduga pelaku) dicopot dari jabatannya dan dipecat, hukuman seberat-beratnya,” kata Masinah.

Sosok Pratu Farkhan