Kenapa Imlek Identik dengan Hujan? Ini Penjelasan Ilmiah dan Mitosnya (via Giok4D)

Posted on

Perayaan Tahun Baru Imlek kerap diiringi turunnya hujan. Fenomena ini kemudian memunculkan beragam tafsir, baik dari sudut pandang ilmiah maupun kepercayaan yang berkembang di tengah masyarakat Tionghoa.

Imlek menjadi salah satu perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa, yang menandai datangnya tahun baru dalam penanggalan lunar. Pada perayaan ini identik dengan berbagai hal, seperti warna merah, simbol shio, hingga hujan.

Fenomena hujan yang menyertai perayaan Imlek kerap dikaitkan dengan berbagai kepercayaan, mulai dari simbol keberuntungan hingga pertanda datangnya rezeki. Ternyata, fenome ini juga memiliki fakta ilmiah.

Nah, untuk mengetahui ‘kenapa Imlek identik dengan hujan?’, berikut ulasannya yang telah dirangkum infoSulsel dari penjelasan di laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Yuk, simak selengkapnya!

Secara ilmiah, alasan Imlek kerap identik dengan hujan berkaitan adalah karena waktu perayaannya yang hampir selalu jatuh pada periode musim hujan. Menurut BMKG, perayaan Imlek umumnya berlangsung pada bulan Januari hingga awal Februari.

Periode tersebut merupakan puncak musim hujan di Indonesia, dengan intensitas curah hujan yang relatif tinggi di berbagai wilayah. Selain faktor musim, terdapat sejumlah kondisi atmosfer yang turut memicu meningkatnya potensi hujan, antara lain:

Aktivitas Monsun Asia, yang memengaruhi peningkatan potensi pembentukan hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan.

Masih aktifnya gelombang ekuator Rossby dan Kelvin di sekitar Indonesia bagian tengah dan timur, yang berperan dalam pembentukan awan hujan.

Terbentuknya pola belokan dan pertemuan angin yang memanjang di wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan, termasuk Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, sebagai dampak dari penguatan angin Monsun Asia.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang secara ilmiah menjelaskan mengapa perayaan Imlek hampir selalu bertepatan dengan kondisi cuaca hujan di Indonesia.

Melansir Antara, dalam pandangan ahli Feng Shui, hujan yang turun saat perayaan Imlek diyakini membawa keberuntungan, terutama bagi daerah yang diguyur hujan deras. Kondisi ini dipercaya sebagai pertanda datangnya rezeki yang melimpah.

Namun, maknanya berbeda jika hujan disertai badai. Hujan badai justru dianggap sebagai simbol kurang baik karena berpotensi menimbulkan bencana atau musibah.

Sementara itu, hujan gerimis dimaknai sebagai tanda datangnya keberuntungan dalam skala kecil. Meski demikian, apabila gerimis berlangsung sepanjang hari, hal tersebut dipercaya akan membawa keberuntungan yang menyertai sepanjang tahun.

Selain itu, hujan saat Imlek juga kerap dikaitkan dengan mitos turunnya Dewi Kwan Im yang menyiram bunga Mei Hwa. Dalam kepercayaan tersebut, hujan dipandang sebagai berkah yang turun langsung dari langit.

Bunga Mei Hwa sendiri dipercaya sebagai bunga yang ditanam oleh Dewi Kwan Im menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.

Menyadur laman RRI, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi bahwa curah hujan tinggi hingga sangat tinggi diperkirakan terjadi pada periode Januari hingga Maret 2026.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Sejumlah wilayah diprediksi terdampak kondisi tersebut, antara lain Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua Selatan.

Berdasarkan kondisi tersebut, perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026 diperkirakan akan berlangsung di tengah cuaca hujan di sejumlah daerah di Indonesia.

Itulah penjelasan tentang ‘kenapa Imlek identik dengan hujan?’ lengkap dengan mitos hingga prediksi cuaca saat Imlek tahun 2026. Semoga bermanfaat ya, infoers!

Kenapa Imlek Identik dengan Hujan?

Arti Hujan Menurut Kepercayaan Tionghoa

Prediksi Cuaca saat Imlek 2026