Ini Satu-satunya Negara yang Mandiri Pangan Sepenuhnya di Dunia, Ada di Mana? | Giok4D

Posted on

Di tengah kondisi pangan global yang mengkhawatirkan, di Amerika Selatan justru ada negara kecil yang mandiri sepenuhnya dalam hal pangan. Negara itu adalah Guyana, yang mampu memenuhi kecukupan pangan negaranya tanpa campur tangan asing.

Luas wilayah Guyana hanya sekitar 214.969 km² atau setengah dari Pulau Sumatera di Indonesia. Meski kecil, masyarakatnya berdaya dan mandiri soal pangan dengan berdagang hasil bumi.

Misalnya di wilayah pasar-pasar Georgetown, akan ditemui banyak kios yang menjual beras lokal, singkong, ikan segar, hingga buah-buahan. Semuanya merupakan hasil bumi dari wilayah Guyana.

Sebuah studi yang terbit di jurnal Nature Food pada 16 May 2025, menganalisis 186 negara untuk menentukan seberapa baik masing-masing negara dalam memberi makan warganya dari produksi dalam negeri. Hasilnya, Guyana menjadi satu-satunya yang mencapai swasembada untuk makanan pokok.

Mandiri pangan yang berhasil dicapai Guyana mencakup buah-buahan; sayuran; produk susu; ikan; daging; kacang-kacangan, biji-bijian dan polong-polongan; dan makanan pokok bertepung. Peneliti mengungkapkan bahwa Guyana mencapai swasembada pangan tanpa menghancurkan alamnya.

Dalam hal ini, Guyana tidak menutup akses dengan dunia luar. Mereka tetap berdagang dengan negara lain, tetapi tetap bisa memenuhi semua kebutuhan nutrisi penduduknya dari alam.

Di banyak negara termasuk Indonesia, swasembada pangan banyak dilakukan dengan merusak hutan. Salah satu yang terparah yaitu di Merauke, Papua, yang menunjukkan peningkatan deforestasi ratusan ribu hektare imbas program swasembada pangan Pemerintah Indonesia.

Namun Guyana tidak melakukan ini. Guyana melakukan pendekatan konservatif dengan tetap melestarikan lebih dari 85 persen hutan aslinya tapi tetap bisa mencapai swasembada pangan.

Guyana memanfaatkan lahan pertanian yang terbatas, tetapi sangat produktif. Ini karena letaknya yang berada di dekat khatulistiwa sehingga iklim hangat sepanjang tahun, kelembapan tinggi, dan tanahnya sangat subur, terutama bagian yang diendapkan oleh sistem Sungai Amazon selama ribuan tahun.

“Iklim di wilayah pesisir Guyana sangat cocok untuk produksi tanaman,” jelas Nicola Cannon, profesor pertanian di Royal Agricultural University di Gloucestershire, Inggris. Dikutip dari BBC Science Focus.

Keterbatasan lahan tidak membuat petani di Guyana kehabisan akal, mereka melakukan sistem tanam ‘tumpang sari,’ yaitu menanam beberapa jenis tanaman dalam satu lahan. Berbeda dengan sistem tanam monokultur yang digunakan berbagai negara di dunia.

Teknik ini dapat meningkatkan hasil panen hingga 1,2 hingga 1,5 kali lipat dibandingkan penanaman tunggal dan memiliki keunggulan yang jelas.

“Tumpang tanam menawarkan peluang untuk meningkatkan produktivitas,” ujar Cannon.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Setiap tanaman dalam pola tersebut memiliki peran dan waktu pemanfaatan nutrisi yang berbeda, sehingga tanah tetap subur dan tumbuhan tidak saling bersaing. Selain itu, tumpang sari juga meminimalisir risiko gagal panen karena hama atau cuaca buruk.

Tidak hanya meningkatkan produksi pangan, Guyana juga fokus untuk merawat kesuburan tanah supaya tidak cepat terkuras dari kemampuan pulihnya secara alami. Secara global penurunan kualitas tanah akibat hilangnya zat organik, yang mengakibatkan tanah sulit menyimpan air dan rentan dengan cuaca ekstrem.

“Akar yang hidup tidak hanya secara fisik menahan tanah agar tetap menyatu, tetapi juga mengeluarkan [karbohidrat] yang mendorong pertumbuhan mikroorganisme,” jelas Cannon.

“Ini membantu menjaga tanah tetap subur dan membantu dekomposisi sisa-sisa tanaman,” imbuhnya.

Kendati demikian, keberhasilan Guyana ini tidak serta merta dapat diterapkan di seluruh negara. Praktik swasembada ini bersifat inspiratif dan memiliki beberapa kelemahan jika diterapkan untuk semua negara, di antaranya:

– Swasembada tidak cocok bagi seluruh negara.
– Swasembada memiliki jejak sejarah buruk yang berujung pada pembatasan kebebasan masyarakat.
– Perdagangan antar negara tetap diperlukan.
– Keterbatasan lahan subur yang tidak dimiliki setiap negara.
– Swasembada nasional sangat jarang terjadi.
– Swasembada bukan satu-satunya solusi tunggal atas ketahanan pangan.

Meski begitu, kondisi Guyana menunjukkan bahwa solusi teknologi tinggi dinilai bisa bekerja paling baik bila dikombinasikan dengan prinsip-prinsip lama tentang keanekaragaman, pengelolaan tanah, dan bekerja dalam batasan alam.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di infocom.

Guyana Mencapai Mandiri Pangan Tanpa Merusak Alam

Bagaimana Cara Guyana Mandiri Pangan?

Apa Kelemahan Swasembada?