Pulau-pulau di Indonesia menyimpan ratusan situs seni cadas, termasuk cap tangan tertua yang pernah tertanggal yang ditemukan di Liang Metanduno, Sulawesi Tenggara. Namun, situs-situs ini menghadapi banyak ancaman, mulai dari faktor alam hingga manusia.
Peneliti Pusat Riset Arkeometri BRIN Adhi Agus Oktaviana situs seni cadas yang ada di Indonesia tersebar dari Sumatera hingga Papua, dengan konsentrasi terbesar di wilayah Indonesia tengah hingga timur.
Adhi mengatakan situs seni cadas di Sulawesi merupakan temuan yang paling unik karena memperlihatkan cap tangan dengan bentuk mirip seperti cakar. Namun ada salah satu situs di Sulawesi Tenggara yang terancam hilang karena perubahan iklim.
“Di Buton Tengah ancamannya mungkin dari iklim paling besar karena gambar gambarnya ada di pesisir,” kata Adhi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
“Kalau kita lihat yang di Madongka 3 saja cuma bagian sedikit sisa cap tangan, selebihnya itu cuma pigmen-pigmen saja merah yang bisa kita lihat. Padahal kalau dari dulunya dari satu galeri panjang puluhan itu gambar dan kalau kita lihat konturnya bagus-bagus sekali,” sambungnya.
Beberapa situs seni cadas juga terancam rusak karena tangan jahil pengunjung. Adhi mencontohkan seni cadas di Gua Liang Kobori, Sulawesi Tenggara yang menampilkan dua gambar perahu Austronesia yang paling lengkap kini tergores.
Menurut Adhi, situs seni cadas yang paling mengkhawatirkan berada di wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Ia mencontohkan situs arkeologi di Topogaro, Sulawesi Tengah yang sudah dikelilingi tambang nikel padahal menyimpan peninggalan prasejarah dari 42.000 tahun yang lalu.
Adhi mengatakan saat ini sudah ada empat situs gambar cadas yang menjadi cagar budaya nasional yaitu Gua Harimau, Leang Timpuseng, Leang Bulu Sipong 4, dan Leang Tedongnge.
Situs Liang Metanduno, tempat ditemukannya cap tangan tertua berusia 67.800 tahun, saat ini sudah menjadi bagian dari cagar budaya provinsi Liang Kobori, dan pemerintah Kabupaten Muna berharap statusnya dapat dinaikkan.
“Semoga ke depan ini akan naik menjadi cagar budaya tingkat nasional, mungkin bahkan bisa jadi World Heritage UNESCO, itu harapan kita ke depan,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Muna Hadi Wahyudi dalam kesempatan yang sama.
