Bangkai pesawat di halaman rumah kosong di Dusun Sonosari, Desa Kertosari, Kutorejo, Mojokerto yang terpisah 4 bagian menggegerkan warga setempat. Pesawat penumpang tidak terpakai itu sengaja didatangkan dari Jakarta untuk dijadikan objek wisata.
Babinsa Kertosari, Serka Erwin Dayana menjelaskan bangkai pesawat besar ini didatangkan dari Jakarta oleh seorang perempuan bernama Anggun.
Bangkai pesawat yang utuh itu dipisah menjadi 4 bagian yakni pada bagian moncong, lambung tengah, ekor, dan sayap lalu diangkut menggunakan 4 truk tronton dari Jakarta ke Mojokerto.
“Dikirim dari Jakarta pakai 4 truk tronton, sampai di sini tanggal 13 Juni 2025 sore,” ujar Erwin sambil menunjukkan foto dokumentasi saat bangkai pesawat tiba di Dusun Sonosari, Kamis (22/1/2026).
Rencananya, bangkai pesawat ini bakal digunakan menjadi wisata edukasi yang dilengkapi kafe. Hanya saja, perizinannya hingga kini belum tuntas.
“Menurut Pak Kades Kertosari, Bu Anggun akan menggunakan pesawat ini untuk wisata edukasi. Bentuknya mungkin kafe atau seperti apa, kami kurang paham,” ungkapnya.
Sebelumnya, bangkai pesawat penumpang itu menggegerkan warga setempat. Keberadaannya membuat warga Desa Kertosari dan sekitarnya berbondong datang untuk menonton.
Buakip (59), warga Sonosari pemilik lahan yang dijual untuk ditempati pesawat itu menyebut pengunjung berdatangan sejak bangkai pesawat tiba sampai 1 bulan setelahnya.
“Para pengunjung penasaran ingin lihat langsung pesawat terbang. Kalau warga sini beberapa jualan bakso, nasi kuning,” ujarnya.
Dia menceritakan sekitar tahun 2000, lahan tempat pesawat itu berada yang tadinya sawah seluas 6.145 meter persegi dibeli oleh Tarigan, warga Genteng Kali, Surabaya.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Saat itu Buakip menerima pembayaran Rp 25 juta dari Tarigan. Selanjutnya, Tarigan mendirikan rumah dan peternakan bebek di atas lahan tersebut.
Lokasi rumah kosong dan bangkai pesawat ini berada di persawahan yang lumayan jauh dari permukiman penduduk. Pantauan infoJatim di lokasi, lambung depan dan moncong pesawat diletakkan persis di belakang pagar depan rumah.
Kokpit pesawat terlihat masih dilengkapi kursi pilot dan kopilot, serta berbagai tombol operasional pesawat. Hanya perangkat elektroniknya sudah dilepas.
Sementara, dinding luarnya bertuliskan ‘Deraya love Papua’. Persis di sebelahnya teronggok lambung tengah, belakang sampai ekor pesawat terbang sungguhan.
Di sebelah kiri badan pesawat ini ada tumpukan sayap, kerangka mesin, serta roda pesawat. Lapisan luarnya usang karena tak terawat. Sekelilingnya ditumbuhi semak belukar. Selain tak berpenghuni, rumah dan bangkai pesawat tersebut kini tak ada lagi yang menjaga.







